Lingga

Korea Selatan Susul China, Incar Tambang Bauksit Lingga

| Rabu 17 May 2017 11:41 WIB | 1159

Pembangunan
Aset Daerah


Delegasi Korea Selatan saat bertemu Bupati Lingga Alias Wello.


MATAKEPRI.COM, Lingga - Menyusul China, belakangan muncul Korea Selatan yang punya rencana sama membangun smelter dengan investasi Rp5 triliun-Rp 15 triliun.Sejumlah perusahaan tambang Asia kini mengincar kandungan bauksit di Lingga yang diyakini terbesar di Kepri.

Perusahaan asal Korea Selatan itu telah bertemu dengan Bupati Alias Wello di Lingga beberapa waktu lalu. Bupati menerima kunjungan dari petinggi perusahaan konstruksi dan tambang, Sungpoong Construction Co.Ltd dan membicarakan kemungkinan pembangunan fasilitas pengolahan bauksit menjadi alumina atau smelter.

Perusahaan swasta Negeri Ginseng mengirim langsung CEO Kim In Pil yang memimpin delegasi mereka untuk mensurvey sejumlah lokasi di Lingga.

Pembicaraan dengan Alias Wello juga mengarah ke proyek pembangunan pembangkit listrik dari air terjun selain proyek smelter. Dalam delegasi tersebut terdapat perusahaan konstruksi pembangkit listrik dan mesin, Chemotech Co.Ltd.

“Pada prinsipnya kami welcome dengan investasi. Tapi proses dan tahapan perizinan harus tetap dilalui serta sesuai aturan pemerintah Indonesia,” ungkap Alias Wello di Jakarta, kemarin.

Alias mengungkapkan dalam pertemuan dengan investor tersebut, ia meminta tiga syarat jika benar-benar ingin membangun smelter. Pertama, investasi mereka harus bermanfaat untuk warga setempat. Kedua, berkontribusi dan berkomitmen bagi pendapatan daerah. Ketiga, harus tetap menjaga lingkungan.

Syarat itu agar investasi yang masuk ke Lingga punya nilai tambah terutama meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selain itu meski bergerak di bidang pertambangan yang punya risiko merusak lingkungan, perusahaan tetap dituntut peduli dengan kelestarian lingkungan. “Saya tidak ingin sejarah kelam tambang terulang lagi,” sambung Alias.

Kekhawatiran Alias bercermin kasus penjualan lahan semasa tambang bauksit sedang ramai-ramainya di Lingga. Banyak warga menjual lahannya kepada perusahaan tambang tapi justru ditinggal ketika bauksit habis digali.

Sementara itu, pembicaraan dengan Korea Selatan belum masuk soal kebutuhan dana investasi. Soongpoong baru akan mengkaji potensi bauksit yang masih tersimpan di Lingga. Tapi Alias memperkirakan biaya investasi yang dibutuhkan untuk membangun smelter umumnya di atas Rp5 triliun.

“Mereka masih akan datang sekali lagi untuk mengkroscek data mereka dengan di lapangan. Mereka juga mengundang Pemkab Lingga ke Korea untuk melihat langsung perusahaan,” papar Alias.

Selain Sungpoong, sebelumnya juga muncul dua perusahaan asal China yang berencana membangun smelter. Chalieco dan Dezheng Resources, produsen alumina asal China menyiapkan investasi sekitar USD1 miliar atau setara Rp13 triliun. Dua perusahaan ini sudah selangkah lebih maju karena sudah menggandeng mitra lokal, PT Berkah Pulau Bintan untuk mempermulus rencana tersebut.

Direktur Utama PT Berkah Pulau Bintan, B Susanto, mengatakan smelter nantinya akan dibangun di Sebayur, Pulau Singkep. Perusahaan inilah yang mengajukan izin usaha pengolahan dan pemurnian mineral atau IUP Operasi Produksi ke Kementerian ESDM.

Dari kajian mereka juga terungkap Lingga masih memiliki kandungan bauksit berdasarkan citra satelit dan laporan eksplorasi Joint Ore Reserves Committee (JORC). Laporan JORC menyebut kandungan bauksit di Lingga terbesar di Kepri dengan 600 juta metrik ton. jamariken tambunan

Perusahaan tambang China dan Korea Selatan sama-sama mengambil ancang-ancang membangun smelter bauksit di Lingga yang diyakini punya kandungan lebih dari 600 juta metrik ton. Rencana mereka mencuat empat bulan setelah pemerintah menerbitkan PP No.1/2017 tentang Pelaksaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara.(*/sn)