Nasional , News, Hukum & Kriminal

WNI Tewas Di Kapal Ikan Cina

Juliadi | Selasa 03 Dec 2019 17:06 WIB | 150

Tewas


Keluarga almarhum Arifqih di Kelurahan Sangaji, Kota Ternate Utara. (Foto : cnnindonesia.com)


MATAKEPRI.COM, JAKARTA - Seorang Warga Negara Indonesia (WNI) asal Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara, Arifqih Maulana Ramli (19) yang menjadi anak buah kapal (ABK) di kapal berbendera China meninggal dalam pelayaran di perairan Afrika.


 
Keluarga Arifqih mendapat kabar tentang kematian putra mereka dari perusahaan penyalur ABK, PT Lakemba Perkasa Bahari, Senin (2/12). 


Pihak keluarga saat ini menuntut pemulangan jenazah Arifqih, juga penjelasan lengkap tentang penyebab kematiannya.

 
Dalam konferensi pers yang digelar orangtua Arifqih, Ramli Naser dan Salma M. Arif, Selasa (3/12) di rumah salah satu kerabat mereka di Kelurahan Sangaji, Kota Ternate Utara, Ramli menuturkan Arifqih direkrut oleh agen perusahaan kapal PT Lakemba Perkasa Bahari bernama Rismon Latif pada Agustus 2018. 


Pemuda asal Kelurahan Rua, Kecamatan Pulau Ternate itu hendak dipekerjakan di kapal ikan Zhang Yuan Yu 22.
 

"Kapal itu berbendera China tapi operasinya di Negara Mauritius, Afrika Timur," tutur Ramli.
 

Sepanjang November 2018 hingga Maret 2019, Arifqih mengikuti training di Tegal, Jawa Tengah. Pada 26 Maret 2019 pemuda tamatan Madrasah Aliyah itu bersama 9 temannya diberangkatkan ke Afrika melalui rute Jakarta-Kualalumpur-Dubai-Mauritius.
 

"Tanggal 28 Maret mereka tiba di Mauritius. Besoknya Arifqih menghubungi ibunya," sambung Ramli.


Saat menghubungi ibunya melalui sambungan telepon, Arifqih bilang mereka akan mulai berlayar pada 6 April 2019. Menurutnya dalam pelayaran tak ada sinyal telepon. 


"Lalu bulan Agustus 2019 dia menelepon lagi mengabarkan bahwa sudah kembali berlayar. Dia sempat videocall dengan kami," ungkap Ramli.
 

Kapal Zhang Yuan Yu 22 yang mempekerjakan Arifqih kembali berlayar mencari ikan pada 2 September lalu. 


Menurut Arifqih, mereka berlayar ke Somalia. Sayang, itu terakhir kalinya keluarga berkomunikasi dengan pemuda kelahiran 22 Maret 2000 tersebut.
 

Senin (2/12) kemarin, perwakilan PT Lakemba menghubungi Salma. Penelepon yang mengaku bernama Yus mengabarkan bahwa Arifqih telah meninggal dunia. Menurut dia, ketika kapal dalam perjalanan menuju dermaga Mauritius, Arifqih tiba-tiba sesak napas. Ia diberi pertolongan seadanya namun nyawanya tak tertolong.
 

"Saya sempat tanya pastikan apa betul sudah terkonfirmasi anak kami meninggal? Jawabnya sudah," kata Salma.


Keluarga pun menuntut jenazah Arifqih dipulangkan ke kampung halamannya. Disertai penjelasan tentang penyebab kematiannya. Perusahaan juga diminta tak lepas tangan terhadap masalah tersebut.
 

"Mereka bilang sementara diproses pemulangannya," ucap Salma.
 

CNNIndonesia.com mencoba menghubungi kantor PT Lakemba Perkasa Bahari, dan staf yang mengangkat mengaku bernama Warstio. 


Dia menjelaskan, pemilik kapal mengabari kematian Arifqih Senin kemarin dan kabar tersebut langsung diteruskan ke pihak keluarga.
 

"Kapalnya sedang berada Seychelles (Afrika Timur), sedang dalam perjalanan ke dermaga dan harusnya sandar besok (Rabu) pagi. Jenazah saat ini masih di atas kapal," terangnya.
 

Warstio juga bilang, setelah kapal sandar jenazah akan diperiksa oleh pihak otoritas setempat. Lalu jenazah dibawa ke rumah sakit untuk diautopsi.
 

"Kita juga kan perlu surat-surat untuk pengurusan klaim asuransi nanti," katanya "Untuk kepastian berapa hari proses pemulangan jenazah selesai, kita masih harus menunggu proses dari negara setempat. Mungkin bisa seminggu, atau lebih cepat, atau lebih.


Pihak Lakemba memastikan perusahaan tak akan lepas tanggung jawab terkait pemulangan jenazah. Mereka berjanji akan mengawal hingga ke rumah duka di Ternate.
 

"Pihak keluarga juga nanti ada yang mau ke kantor Jakarta untuk jemput. Rencananya adik sama paman almarhum. Kami juga sudah minta KTP untuk booking tiket," kata Warstio. (***/cnnindonesia.com)