Nasional , News, Politik

DPP Partai Golkar Memanas, Diduduki Para Preman Berseragam AMPG

Juliadi | Selasa 20 Aug 2019 17:51 WIB | 396

Kisruh



MATAKEPRI.COM, Jakarta - Ada yang berbeda siang ini di kantor DPP Partai Gokar, tidak seperti biasanya, kantor DPP Partai Golkar di kawasan Slipi yang selama setahun lebih sepi seperti kuburan karena tidak ada kegiatan partai itu tiba-tiba ramai oleh ratusan preman bayaran yang diberi seragam loreng-loreng AMPG.


Konon, para preman itu menurut sumber di Polres Jakarta Barat memang sengaja dimobilisasi oleh oknum DPP Partai Golkar Ilham Permana dan oknum DPD I Partai Golkar DKI Jakarta Rizal Malarangeng atas perintah Ketua Umum Airlangga yang ketakutan atau khawatir DPP Partai Golkar didatangi para kader anggota pleno Partai Golkar yang sudah berkali-kali mendesak DPP dengan dengan dua kali berkirim surat resmi dengan tanda tangan 187 anggota pleno untuk segera melaksanakan Rapat Pleno tidak, tidak digubris. 


Bahkan seperti menantang, ketua umum Partai Golkar Airlangga sempat menyatakan kepada beberapa senior yang menemuinya termasuk Dewan Pembina, kalau dirinya tidak mau menyelenggarakan pleno, mau apa?


Hari ini ratusan orang berseragam Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) mengepung kantor DPP di Jalan Anggrek Nelly, Jakarta Barat. Mereka melarang kader dan pengurus masuk kantor.


Informasi yang didapat, massa telah berada di kantor DPP Partai Golkar itu sejak sepekan lalu. Namun, pada Selasa (20/8/2019) ini jumlah mereka berlipat. Diperkirakan 400-700 orang berada di sekitar kantor DPP.


Tidak hanya melarang, orang-orang berseragam AMPG itu juga mengintimidasi kader serta pengurus yang hendak masuk kantor DPP. Mereka berdalih sedang menjaga kantor tersebut. Salah satu pengurus yang diadang yakni Ketua Bidang Pemuda DPP Partai Golkar yang juga Wakil Ketua Umum AMPG Bidang Pemuda dan Olahraga Nofel Saleh Hilabi.


Dari informasi lain yang di dapat, oknum DPP Golkar Ihlam mendapat perintah untuk mengerahkan preman bayaran dari Rizal Malarangeng atas arahan Airlangga. 


Awalnya Ilham mempertanyakan pembayaran preman yang sudah hampir dua bulan ini belum dia terima dari oknum DPP Golkar lainnya Agus Silaban untuk menjaga tiga titik lokasi. Titik Pertama DPP Partai Golkar Slipi untuk mencehah anggota pleno DPP membuat kegiatan rapat. 


Titik Kedua, DPD I Partai Golkar DKI Jakarta di Proklamasi Menteng untuk menghalau pengurus dan DPD II DKI Jakarta untuk menggelar Musdalub yang akan melengserkan Rizal Malarangeng yang diniliai gagal mengelola partai sehingga Golkar kehilangan banyak kursi di DKI Jakarta. 


Titik Ketiga, KPK Kuningan untuk menghalau demo2 yang dilakukan BEM dan mahasiswa yang mendesak KKP segera memanggil dan memeriksa Airlanggga terkait dugaan tindak pidana PLTU Enny Saragih, impor garam, Saham Garuda dan lain - lain.


Ilham mendesak agar kewajibannya itu dipenuhi dahulu. Karena sebelumnya Agus Silaban hanya menyerahkan Rp.1,5 miliar. Karena per-kepala all in untuk jaga 24 jam itu belum termasuk makan Rp.350.000. Jadi, menurut Ilham dibutuhkan dana tambahan sekitar Rp.2-3 miliar untuk menjaga DPP Slipi atau sekitar Rp.200 jutaan perhari. Ilham juga menyatakan bahwa dirinya sudah berkoordinasi dan mengaku didukung oleh Kapolres Jakarta Barat untuk melakukan tindakan premanisme itu.


Baca juga : 

Diserang Hiu, Anjing Pit Bull Yang Setia Berhasil Selamatkan Majikannya

Di Pesisir Los Angeles, AS Sukses Luncurkan Uji Coba Rudal Jelajah Jarak Menengah

Ancam Lakukan Penembakan Di Pusat Komunitas Yahudi, Pria Ini Ditangkap Di New Middletown


Sementara itu, Kapolres Jakarta Barat Kombes Henky membatah dihubungi oleh oknum DPP Golkar Ilham dan mengatakan tidak mau ikut campur urusan internal parpol. 


Salah seorang fungsionaris partai Golkar dan mantan Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Indonesia Timur, Akbar NT, membenarkan bahwa dia mendapat laporan pagi ini situasi di DPP sudah banyak preman diseragamin AMPG. Katanya Airlangga turunin preman sektar 400 lebih. 


“Ngga tahu maksudnya apa. Wong kantornya aja selama ini sepi seperti kuburan ngga pernah dipakai2 rapat atau kegiatan partai,” kata Akbar NT.


Akbar NT, menyesalkan Tata kelola partai seperti mengelola perusahaan nenek moyangnya saja. “Pengiriman preman berseragam seolah-olah AMPG menduduki kantor partai itu kan bisa memancing kegaduhan. Karena pengurus yg lain juga bisa kirim orang. Memangnya dia saja yg bisa kirim pasukan?, ” ujar Akbar NT. 


Rupanya Airlangga lupa dan tidak memetik pelajaran dari apa yang terjadi saat Golkar pecah antara Golkar versi Bali dan Golkar versi Ancol yang awalnya bermula dari kependudukan kantor DPP Partai Golkar di Slipi yang berimbas pada situasi politik yang kurang kondusif, terlebih menjelang penyusunan formasi pimpinan dan alat kelengkapan DPR semua tingkatan plus MPR dan koalisi pilkada langsung yang akan dimulai akhir tahun ini. (Rilis)