Natuna

Natuna Harusnya Jadi Sentra Perikanan Terbesar di Asia Tenggara

| Kamis 06 Apr 2017 12:43 WIB | 1726

Aset Daerah


Potensi perikanan Natuna. F. jitunews


MATAKEPRI.COM, Natuna - Natuna dipilih sebagai sentra ikan terbesar di Asia Tenggara. Hal ini sebagaimana diutarakan Presiden RI Joko Widodo saat mengunjungi Natuna belum lama ini. Disebutkan juga, triliunan hasil ikan laut Natuna masih mengendap tak dikelola.

Sebagai langkah awal untuk mewujudkannya, Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) RI telah memilih Selat Lampa sebagai kawasan pembangunan Sentra Perikanan dan Kelautan Terpadu (SKPT).

Bupati Natuna Hamid Rizal mengatakan, Presiden ingin laut Natuna dikelola maksimal. Namun yang merasakan hasilnya harus masyarakat Indonesia, khususnya warga Natuna.

”Makanya Menteri Kelautan tak memberi izin kepada nelayan asing untuk menangkap ikan di Indonesia. Biar nelayan kita sendiri yang menangkapnya,” ujarnya kepada Tanjungpinang Pos, Selasa (4/4) di Gedung Daerah Tanjungpinang.

Hamid Rizal menjelaskan, Selat Lampa akan dijadikan pusat TPI (Tempat Pelelangan Ikan).

”Dari Thailand, Malaysia, Singapura atau dari mana saja bisa datang ke sana ikut lelang. Membeli ikan boleh, tapi menangkap yang tidak bisa,” katanya melanjutkan penjelasan Menteri KKP, Susi Pudjiastusi.

”Kata Pak Presiden kan gitu juga, agar ikan-ikan kita ditangkap nelayan kita saja. Laut kita jangan jadi daerah tangkapan asing. Bukan nelayan kita pula yang sejahtera kalau begitu,” ungkapnya.

Selain membangun Selat Lampa menjadi SKPT, Menteri Susi juga membantu nelayan Natuna dengan menyumbangkan kapal-kapal tonase menengah ke atas.

Bahkan, jumlahnya ratusan ini. Bantuan itu sudah berjalan sejak tahun 2016 dan berlanjut hingga tahun 2017 ini. Jumlahnya, kata bupati, sekitar 200-300 unit.

Selama ini, kebanyakan nelayan Natuna menangkap ikan pakai sampan atau kapal kecil. Maka, ketika Selat Lampa sudah dioperasikan, nelayan harus bisa menangkap ikan sebanyak-banyaknya.

Pusat pelelangan ikan itu butuh pasokan ikan ribuan ton sehari. Pedagang-pedagang negara asing akan datang ke sana untuk ikut melelang ikan. Sehingga, pasokan harus mencukupi.

Sekarang, kata Hamid, nelayan turun ke laut sore hari dan pulang pagi harinya. Dapat ikan langsung jual untuk kebutuhan sehari-hari.

”Ke depan tak bisa begitu. Harus bertahan di laut 2 minggu, baru pulang. Sekali melaut, bawa 30 ton. Bukan seperti sekarang hanya dijual untuk sehari-hari,” katanya sambil tertawa.

Dengan penghasilan 30 ton per dua minggu atau sekitar 60 ton sebulan, maka penghasilan nelayan sudah banyak dan bisa memenuhi kebutuhan pendidikan anaknya.

Nelayan bisa menjual ikannya di TPI tersebut. Karena itu, butuh banyak pasokan ikan setiap hari nantinya.

Potensi ikan Natuna, bebernya, sangat berlimpah. Saat ini, baru dikelola sekitar 9 persen. Sisanya 91 persen masih tertanam di laut dan siap menghasilkan uang.

Sementara itu, data dari Kementerian KKP menyebutkan, stok ikan Natuna sekitar 1,1 juta ton setahun. Yang dikelola saat ini baru sekitar 5 persen.

Jika diasumsikan harga ikan sekilo Rp 20 ribu, maka potensi ikan laut Natuna sekitar Rp 22 triliun setahun. Jika harganya Rp 10 ribu sekilo, potensi setahun sekitar Rp 11 triliun.

Namun, Hamid Rizal mengatakan, tidak perlu sejauh itu, jika setahun itu nelayan Natuna bisa menghasilkan Rp 3 triliun, masyarakat sudah sangat sejahtera.

Itu baru dari ikan tangkapan. Belum lagi ikan budidaya yang bisa dikembangkan. Karena itu, Hamid yakin, 2 atau tiga tahun ke depan, bukan tidak mungkin APBD Natuna mencapai Rp 2 triliun.

Apalagi setelah Selat Lampa dioperasikan, tentu akan ada pemasukan daerah (PAD) dari sana. Ditambah lagi Natuna akan dijadikan kawasan wisata dan bertambahnya perusahaan yang sudah eksploitasi migas ke depan.

Ditanya siapa yang akan mengelola Selat Lampa, bupati mengaku belum tahu apakah Kementerian KKP atau kerja sama dengan Pemkab Natuna.

”Kita lihat nantilah. Kalau kita, siap mengelola atau kerja sama,” singkatnya.

Kini, sedang dibangun pembangkit listrik kapasitas 5 MW di Selat Lampa untuk memenuhi kebutuhan listrik SKPT tersebut. Gudang penyimpanannya saja butuh daya yang sangat besar.

”Kalau sudah Presiden yang minta diselesaikan, aman lah itu. Kita tak perlu khawatir lagi listriknya. Pasti disiapkan,” bebernya.

SKPT Selat Lampa Natuna dibangun dengan standar internasional. Di sana juga akan dibangun industri pengolahan dan pemasaran secara bersamaan.

APBN digelontorkan sekitar Rp 300 miliar untuk menyediakan sejumlah fasilitas seperti ice flake machine sebanyak 5 unit, integrated cold storage kapasitas 200 ton 1 unit dan kapasitas 3.000 ton 1 unit.

Kemudian, ada juga mobil berpendingin, instalasi karantina ikan, pembangunan fasilitas bangunan darat.

Kecilnya hasil tangkapan ikan di Natuna, karena nelayan menggunakan kapal kecil berukuran 1-3 GT dan fokus menangkap ikan di sekitar pesisir. Hasilnya pun tak maksimal.

Terlebih saat musim angin utara, banyak nelayan tak berani melaut karena kapalnya kecil. Jadinya, pasokan ikan di pasar berkurang dan harga ikan pun selangit.***